Sabtu, 24 Maret 2012

Soni Farid Maulana: Riwayat dan Karya


Soni Farid Maulana dilahirkan pada tanggal 19 Februari 1962, di Tasikmalaya, Jawa Barat. Ia adalah anak dari pasangan R. Sarah Solihati dan R. Yuyu Yuhana bin H. Sulaeman. Soni lulus kuliah di Akademi Seni Tari Indonesia (kini Sekolah Tinggi Seni Indonesia) pada tahun 1986 dan jurusan yang dipilihnya adalah Teater.

Soni juga aktif menulis puisi, esai, prosa, dan laporan jurnalistik di Harian Umum Pikiran Rakyat. Puisi-puisi yang dibuatnya bukan hanya berbahasa Indonesia, tapi juga berbahasa Sunda. Sebagai penyair, Soni pernah membacakan sejumlah puisinya di berbagai acara, yakni South East Asian Writers Conference di Filipina (1990), Festival de Winternachten di Belanda (1999), Puisi Internasional Indonesia di Bandung (2002), International Literature Biennale 2005: Living Together di Bandung, dan sejumlah acara lainnya yang diadakan oleh Dewan Kesenian Jakarta di Taman Ismail Marzuki.

Puisinya pun diterjemahkan ke berbagai bahasa, yakni ke bahasa Inggris, Jerman, Belanda, dan Cina. Kumpulan puisinya yang sudah terbit antara lain, Variasi Parijs van Java (2004), Tepi Waktu Tepi Salju (2004), Selepas Kata (2005-2005), Secangkir Teh (2005), Sehampar Kabut (2006), Angsana (2007), dan sebagainya.

Berikut ini adalah salah satu puisi karya Soni Farid Maulana yang dituliskan dalam buku kumpulan puisinya, Angsana (2007):

ENVOI

akhirnya kau temukan aku meninggal
dalam pangkuan malaikat maut yang menangis
di arah kiblat. Ingin aku bertanya, apa yang kau
temukan di kamar tidurku yang berantakan
diporak-porandakan badai minuman keras?
keduniawian adalah minuman keras bagiku.

aku tahu, hanya kebisuan yang menyemak
dalam rongga dadamu. Pada hematku aku merasa
lebih baik di tempat di mana aku berada sekarang
meski aku belum tahu arah mana yang akan kujelang
kiri atau kanan.

ditinggalkan atau meninggalkan
adalah jam kematian yang tak bisa ditangguhkan
laju detiknya. Kopor-kopor doa yang kau siapkan
untukku; itu lebih baik-daripada kau-sibuk
menenggelamkan diri dalam palung airmata
yang kelam.

Gambar diambil dari halaman ini

Teks ditulis oleh Resna Ria Asmara

Tidak ada komentar:

Posting Komentar